SM3T
membawaku ke ujung timur Indonesia, tanah Papua.... Kekerasan, OPM, dan
malaria, itu hal pertama yang aku pikirkan tentang Papua. Untuk sebagian orang,
bisa berada di Papua dan bisa naik pesawat gratis mungkin menimbulkan suatu
kebanggan tersendiri. Berbeda denganku, hanya 1 kata yang aku rasakan. “Takut”,
itu perasaanku ketika pertama kali menginjakan kaki dibumi cendrawasih ini.
Ketika
dijemput oleh panitia pemda terkait di awal kedatangan untuk mengikuti acara
lepas sambut, kami bermalam di Ratna Indah hotel sebelum akhirnya pindah ke
hotel yang lebih sederhana. Kita diberi gambaran tentang situasi dan kondisi tempat
kita bertugas nantinya. Selama dihotel, sudah banyak kejadian yang mendukung
pendapat awalku tentang penduduk Papua. Hal itu tentunya membuatku semakin
takut. Orang mabuk dimana mana, salah sedikit langsung emosi, senggol sedikit
langsung main pukul dan masih banyak hal menakutkan lainnya. Dan kami disarankan untuk tidak keluar malam untuk
menghindari hal yang tidak diinginkan.
Hingga
akhirnya tepat tanggal 1 September 2014, aku berangkat ketempatku bertugas di
distrik Okbibab, Pegunungan Bintang. Pengalaman pertamaku naik pesawat perintis
yang hanya membawa 9 penumpang berserta pilot. Itu benar – benar pengalaman
paling berkesan dalam hidupku. Di pewasat aku sangat riang gembira, melihat
luasnya hutan dibawah dan indahnya pemandangan dari atas. Selama satu jam
perjalanan, tak satupun aku liat tanda – tanda ada kehidupan dibawah sana sampa
akhirnya mulai terlihat rumah. “Mungkin sudah dekat,” pikirku. Jantungku
berdebar kencang ketika pesawat mungil itu akan mendarat. Tak terpikirkan
olehku landasan pesawatnya hanyalah bandara kecil tak beraspal dilereng gunung.
Sungguh pendaratan yang sangat menegangkan, menddemarkan dan menguji adrenalin.
Meskipun pada akhirnya, pesawat mendarat dengan mulus. Dan di desa kecil nan
asri itu sudah menanti calon murid – murid kami yang siap menjemput sekaligus
mengantarkan kami kerumah. Seluruh warga sangat antusias menyambut kedatangan
kami. Karena kami tidak ada pendamping yang mengantar, kami tampak sangat
bingung. Kami disambut dengan celotehan Pak Daud dengan bahasa yang masih belum
kami pahami kala itu. Lama- lama kami tau, Pak Daud hanyalah orang gila yang
juga ikut menjemput kami dibandara. Pantas, banyak warga yang hanya tersenyum
geli waktu kami datang.
Pertama
kali menginjakakan kami di Abmisibil, aku dan teman – teman sangat kagum,
terpesona dengan keindahan yang ada disana. Sungguh diluar dugaan, ada sebuah
kehidupan di tengah hutan papua itu. Murid – murid sangat bersemangat mengantar
kami ke rumah, membawakan semua barang – barang kami, guru SM3T. Rumah kami
berada di kompleks perumahan guru SMP. Karena tidak ada transportasi darat,
semua perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Rumah kami berada di
paling bawah sehingga jika ingin kemana mana, kami harus mendaki. Okbibab
merupakan distrik tertinggi dengan cuaca yang sangat dingin. Cuaca tak menentu
dan bisa berubah – ubah kapan saja. Dilihat dari nama, Pegunungan Bintang,
sudah pasti tempat kami bertugas tidak lepas dari kondisi pegunugan yang
berbukit – bukit sehingga kaki kami harus bekerja lebih ekstra untuk beraktivitas.
Hari pertama di Abmisbil, dingin
sekali. Aku harus cepat beradaptasi dengan cuaca. Sebagian warga mengatakan
kami harus mandi agar bisa langsung menyesuaikan diri dengan cuacanya. Dan
airnya, dingin sekali, sangat dingin. Seluruh tubuhku rasanya hampir mati rasa
karena beku. Siang hari kami diundang oleh guru SMP untuk melaksanakan pesta
penyambutan. Seluruh instansi penting di Abmisibil, diundang kala itu. Kami
berkenalan dan bercengrama satu sama lain. Hingga akhirnya acara ramah tamah,
mengisi perut kami yang belum terisi dari pagi kerena kami belum bisa
menghidupkan api menggunakan kayu bakar sehingga kami belum bisa memasak. Masakannya,
diluar dugaanku. Aku pikir karena kita berada di pulau yang berbeda, akan sulit
bagiku menyesuaikan selera lidah. Aku salah, masakannya luar biasa enak dan
lidahku bisa menerimanya dengan baik. Ibu Meri, salah satu guru SMP yang
berasal dari Toraja sungguh pandai memasak.
Proses perkenalan berjalan dengan
baik. Kami melanjutkan aktifitas dengan membersihkan rumah. Rumah kami kecil,
terbuat dari balok kayu, terlihat sangat tradisyonal, tapi masih nyaman untuk
dihuni. Listrik sudah ada 24 jam, air bersih tersedia dan tak ada lagi yang
perlu dikhawatirkan selain itu. Dari pertama kali datang aku sudah berpikir
semuanya akan menyenangkan dan aku akan sangat betah tinggal disana. Aku
bersemangat....
Tugasku mengajar Bahasa Inggris di
SMP, dibandingkan teman – teman yang lain yang harus mendaki untuk kesekolah,
aku masih lebih mudah karena SMP ada didepan rumah. SMPN Okbibab sudah memiliki
admisnistrasi sekolah yang cukup baik karena masih ada guru yang berada di
tempat tugas. Jadi aku hanya perlu mengikuti saran dari guru yang ada untuk
bisa cepat beradaptasi dengan murid – murid. Kulihat satu persatu wajah murid –
muridku. Disana tampak bahwa mereka memiliki banyak harapan padaku. Tampak
jelas bahwa mereka sangat membutuhkanku. Mereka memang tidak seperti murid pada
umumnya di pulau jawa. Muka lusuh, baju kotor, tidak bersepatu bahkan memiliki
bau yang sedikit mengganggu, tapi mereka terlihat tulus. Mereka mencintaiku,
itu yang juga aku rasakan dari pandangan mereka. Mereka memiliki semangat
belajar yang tinggi. Berjalan kaki jauh kesekolah, berangkat pagi bahkan ketika
guru belum bangun. Karena ada yang membutuhkan waktu 3 jam lebih untuk berjalan
kaki kesekolah. Tapi mereka tetap mau, mereka tetap ingin ke sekolah. Itu yang
menggerakkan hatiku untuk mengajar sepenuh hati agar setidaknya aku bisa
membawa sedikit perubahan disini.
Siswa SMP umumnya sudah bisa baca
tulis dan berhitung, namun juga masih ada saja siswa yang belum lancar
ketiganya. Proses penerimaan siswa baru hanya ada 1 syarat, yakni mau
bersekolah. Tidak ada ketentuan bisa baca / tulis karena memang untuk menumbuhkan
kesadaran kepada anak tentang pentingnya pendidikan masih sangat sulit. Jadi
kami masih harus kerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan. Kami masih
mengadakan les tambahan untuk mengajar baca, tulis dan berhitung karena
ketiganya merupakan dasar yang harus dimiliki oleh siswa agar bisa menerima dan
mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Siswa
SMP lah yang paling membantu kami selama kami disana. Membuat kebun bersama,
memberi kayu bakar, sayur dan semua hal yang kami butuhkan. Kalau aku ingin
kacang, pisang, nanas, tingggal minta. Akan tetapi, siswa memberi bukan berarti
mereka memiliki lebih. Mereka memberinya
justru dari sisi kekurangan mereka. Itu karena mereka sangat mencintai kami,
mereka senang kami datang dan mau mengajar disana. Mereka, setidaknya membuatku
merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.
Abmisibil, membuatku memiliki
keluarga baru. Papa Seran (guru SMP) dan istrinya mama Eva sudah seperti ayah
dan ibuku sendiri. Mereka melindungiku dan mendengarkan semua keluh kesahku
setiap hari. Mereka memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Dengan segala
kemanjaan dan kecereweetanku, beliau masih peduli dan menyayangiku sepenuh
hati. Ibu Meri, sudah seperti kakakku sendiri. Mengajariku membuat kue, cerita
bersama, main kartu sampai malam, nonton tv dan karaokean. Kalau tidak ada Ibu
Meri, mungkin aku sudah bosan disana. Guru – guru SMP sudah seperti keluarga
besarku sendiri. “Ayo bakar ayam, kita makan bersama” ujar Pak Mofu, kepala
sekolah SMP. Begitulah kebiasaan kita disana kala sudah merasa ada dititik
jenuh. Kami berusaha mencari kesenangan bersama agar tidak pernah merasa
kesepian disana. Setelah makan – makan biasanya dilanjutkan MOP, karaoke bahkan
bergoyang bersama. Sungguh kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun.
Dinginnya Abmisibil masih membuatku merasakan kehangatan keluarga, yaa keluarga
baruku disana. Aku mencintai mereka semua, mereka membuatku betah berada di
distrik (sebutan untuk kecamatan) yang sunyi itu.
Mengenai mengajar, SMPN Okbibab
masuk jam 07. 30 WIT. 15 menit sebelum masuk, biasanya ada apel pagi. Pulang
sekolah jam 12. 40 dan dilanjutkan dengan apel siang. Sudah diatur jadwal piket
setiap harinya. Ketika apel, guru piket biasanya memberikan nasihat – nasihat
kepada siswa, kadang menggungting rambut siswa yang sudah panjang dan menghukum
siswa yang tidak mandi kesekolah. Kami, para guru di SMP menerapkan pola hidup
bersih disekolah. Aku senang mengajar di SMP. Selain karena guru – gurunya yang
sangat ramah dan sangat peduli kepada kami, murid – muridnya pun juga
menyenangkan. Aku sangat bersemangat mengajar, apalagi ketika aku masuk kelas
dan anak-anak tiba-tiba bertepuk tangan riang gembira karena aku yang mengajar.
Seolah, kehadiranku selalu dinantikan oleh anak-anak. Mereka senang dengan materi
yang aku berikan. Mungkin karena di SMP sudah 30 tahun tidak pernah ada guru
yang mengajar bahasa inggirs, jadi anak-anak sangat antusias untuk belajar.
Terlebih, aku biasanya hanya mengajarkan bahasa inggris dasar dengan sistem
pembelajaran yang menyenangkan. Jadi, sambil bermain anak-anak bisa belajar.
Senang sekali rasanya bisa melihat kegembiraan murid-muridku saat mereka
belajar. Seperti mendapat energi lebih banyak untuk selalu bersemangat
berangkat kesekolah setiap harinya.
Dirumah, aku tinggal dengan 7 orang
temanku. Karena tidak ada jaringan seluler, kebersamaan kita kian terasa. Tidak
ada diantara kita yang sibuk sendiri dengan hp ketika kita sedang berkumpul.
Kita menghabiskan seluruh waktu bersama-sama. Mengusir jenuh dan mengisinya
dengan segala hal yang menyenangkan. Bernyanyi, tertawa, membuat gaduh sampai
mengganggu tetangga. Kita sudah seperti keluarga sendiri. Berkat mereka, aku
tidak pernah merasa kesepian. Kita seakan selalu memiliki ide gila untuk
dilakuan bersama sehingga waktu lebih cepat berlalu ketika aku disana. Mereka
menngajariku banyak hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Tanpa mereka,
aku bukan apa – apa di Abmibil. Aku sangat menyayangi mereka semua, keluarga
baruku itu. Kadangkala, tidak adanya jaringan seluler juga baik. Itu membuat
kami semakin dekat dan semkin membutuhkan satu sama lain.
Kegiatanku setelah mengajar biasanya
memasak dirumah, belajar membuat kue, membuat noken (tas), jalan-jalan ke
kampung-kampung atau mengisi les di sore hari jika ada murid yang datang.
Kadang juga aku melihat voli, basket dan sepak bola didepan rumah. Kompleks SMP
selalu ramai disore hari karena semua warga akan berkumpul disana untuk
memanfaatkan fasilitas olahraga milik SMPN Okbibab. Kita seakan tidak pernah haus akan hiburan
karena kita memanfaatkan apa yang ada semaksimal mungkin.
Semua warga di Okbibab sangat ramah.
Selama satu tahun aku mengajar disana, tak sekalipun aku melihat orang
bertengkar atau saling pukul. Mereka semua akan menyapa setiap kali bertemu
dengan kita. “Selamat pagi Ibu, yepmum” begitu yang sering aku dengar setiap
kali bertemu dengan mereka. Mereka juga tidak sungkan untuk tersenyum sambil
berjabat tangan. Yepmum adalah sapaan warga Okbibab, dalam agama islam, mugkin
artinya sama dengan assalamualaikum. Warga di Okbibab juga sangat menghargai
kami, kaum muslim. Jika ada acara adat (misalkan bakar batu) biasanya mereka
akan membedakan kolam pembakaran / tempat untuk babi dan ayam. Mereka memiliki
torelansi antar agama yang sangat besar. Aku benar – benar sangat bangga dengan
warga di Abmi. Tak banyak yang bisa aku ceritakan tentang Abmi, semua kenangan
di otakku adalah segala hal yang membahagiakan. Abmi membuatku belajar banyak
hal, tentang bagaimana cara bersosialisasi dan menghargai satu sama lain.
Aku dekat dengan warga disana, aku
selalu pergi berkunjung diwaktu luangku. Berbagi cerita satu sama lain. Warga
Abmi menepis pemikiranku tentang orang Papua yang aku pikirkan ketika aku
pertama kali datang. Hangat, ramah, penuh cinta kasih, itulah penduduk Papuaku,
di tanah Abmisibil. Salah satu warga yang paling dekat denganku adalah mama
Dolpi dan mama Yubel. Mama Dolpi, aku tidak tau bagaimana awal aku mengenalnya.
Hanya saja ada salah satu muridku, Lina namanya. Dia bercerita kalau dia
memiliki guru yang sangat baik padanya, itu aku. Dan mama Dolpi mulai datang ke
rumah dan memberikan banyak buah, sayur dan segala hal yang dia miliki
dirumahnya, untukku. Setiap aku membutuhkan sesuatu, dia selau datang membantu.
Membersihkan kebunku, bahkan ketika libur sekolah dia berencana membawakan kami
kayu bakar kalau kayu bakar kami sudah habis. Dia memang sangat baik sekali.
Awalnya aku jengkel karena dia selalu datang, aku mengeluh karena aku lelah
untuk menemani. Tapi akhirnya aku sadar, dia sangat menyayangiku. Dia bahkan
menagis ketika mendengar aku sakit. Dia menyayangiku lebih dari dirinya
sendiri. Bagiku, dia sudah seperti ibuku sendiri. Dia melindungiku, selalu.
Biasanya, setiap pagi dia membwakanku keladi (sejenis talas. Dia akan
menitipkannya pada muridku. Dia tau itu adalah makanan favoridku. Dia
benar-benar tulus. Akhirnya, aku menyayanginya. Jika dia lama tidak datang
kerumah, aku pasti kangen. Dia mengajariku membuat noken, meskipun aku sulit
untuk menjaitnya, tapi dia tetap sabar mengajariku. Pernah suatu ketika dia
bekerja menjadi kuli membangun jalan. Gajinya tak seberapa lalu dia berniat
membaginya denganku. Hatiku sakit kala itu, bukan karena jumlah uang yang akan
dia berikan. Tapi justru karena selama aku bersamanya, tidak hal yang bisa aku
lakukan untuk membalas semua pengorbanannya selama ini untukku. Berat rasanya
meninggalnya pergi. Terlebih setelah pergi, kita tidak bisa berkomunikasi satu
sama lain. Saat kepulanganku, dia memegang erat tanganku. Dia memeluk dan
menciumku. “mama akan sakit satu bulan dan menangis sampai mati kalau kawan
pergi, ujarnya”. ‘kawan”, ya dia memang memanggilku dengan sebutan itu. Mungkin
baginya aku sudah seperti kawan yang selalu menemaninya. Dia selalu tidak ingin
aku pergi dan susah bagiku untuk memberinya pengertian karena akupun juga tidak
ingin pergi. Pengalaman seperti ini adalah hal yang paling aku benci dari
adanya program SM3T. Perpisahan, aku sangat membencinya. Setelah aku
mendapatkan keluarga baru, aku harus pergi karena masa kontrakku sudah
berakhir.
Selain mama Dolpi, aku juga dekat
dengan mama Yubel. Beliau adalah suster di puskesmas Abmi dan wali dari
almarhumah muridku Yokbeta. Yokbeta adalah salah satu murid terbaik kami, SMPN
Okbibab yang meninggal karena sakit. Kedekkatanku dengan mama Yubel karena
beliau juga dekat dengan papa Seran dan mama Eva. Selain itu, ketika Yokbeta
sakit aku selalu datang kesana untuk menjenguk dan memberi motivasi untuk
sembuh. Mama Yubel dan keluarganya sangat menyayangiku. Mereka selalu memberiku
sayur kerumah. Ketika aku berpamitan untuk pulang, mama menangis dan memelukku
dengan erat. Mengatakan semoga suatu saat aku bisa kembali lagi berkumpul
dengan keluarga disana. Aku bersyukur
banyak hal yang aku dapatkan selama aku bertugas di Abmi. Paling tidak, aku
pulang dengan memberikan kenangan yang baik untuk warga disana.
Di kepulangan kami, semua warga
menagis haru. Mereka berharap kami bisa sedikit lebih lama lagi disana. Mereka
mengantar kami ke bandara dengan berat hati. Tak terasa satu tahun kebersamaan
kami, waktu memamng berjalan lebih cepat dari biasanya.Murid- muridku yang
dulunya aku bilang lusuh, kotor dan bau, sekarang tampak sedikit bersih. Tapi
diluar dari itu semua, aku benar – benar sudah sangat menyayangi mereka. Mereka
adalah bagian dari diriku, memiliki tempat dihatiku dan memberi begitu banyak
pelajaran yang tidak bisa aku beli dengan apapun.
Bagiku,
Abmisibil bukan daerah 3T yang sering aku dengar. Abmisibil adalah surga kecil
ditengah hutan belantara Papua. Yaaa...kutemukan surgaku disini, kutemukan
banyak cinta, dan kutemukan segala hal yang belum pernah aku temukan sebelumnya,
dipedalaman Papua tercinta ini. Papua, akhirnya tak ada lagi rasa takut. Yang
ada hanyalah rasa cinta yang mendalam. Hanya ada 1 kalimat terakhir yang bisa
aku ucapkan tentang Okbibab,”Aku ingin kembali”. Tunggu aku murid-muridku,
mama, bapak dan semuanya. Semoga kita, bisa berjumpa dan bersama-sama kembali,
nanti......