Rabu, 21 Oktober 2015

galau.... .

kau muncul d tiga dunia....

untuk melupakanmu., ak bhkan berlari jauh ketika qt d dunia nyata...
untuk move on dr kamu, ak menghindari dunia maya... ak brusaha tdak lagi mencari tau.... .

lalu.... .
kenapa skrg kamu hdir d dunia mimpi?
bagaimana lagi caraku, menjauh darimu???

Rabu, 14 Oktober 2015

Surga kecil ditengah hutan belantara Papua

SM3T membawaku ke ujung timur Indonesia, tanah Papua.... Kekerasan, OPM, dan malaria, itu hal pertama yang aku pikirkan tentang Papua. Untuk sebagian orang, bisa berada di Papua dan bisa naik pesawat gratis mungkin menimbulkan suatu kebanggan tersendiri. Berbeda denganku, hanya 1 kata yang aku rasakan. “Takut”, itu perasaanku ketika pertama kali menginjakan kaki dibumi cendrawasih ini.
Ketika dijemput oleh panitia pemda terkait di awal kedatangan untuk mengikuti acara lepas sambut, kami bermalam di Ratna Indah hotel sebelum akhirnya pindah ke hotel yang lebih sederhana. Kita diberi gambaran tentang situasi dan kondisi tempat kita bertugas nantinya. Selama dihotel, sudah banyak kejadian yang mendukung pendapat awalku tentang penduduk Papua. Hal itu tentunya membuatku semakin takut. Orang mabuk dimana mana, salah sedikit langsung emosi, senggol sedikit langsung main pukul dan masih banyak hal menakutkan lainnya. Dan  kami disarankan untuk tidak keluar malam untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Hingga akhirnya tepat tanggal 1 September 2014, aku berangkat ketempatku bertugas di distrik Okbibab, Pegunungan Bintang. Pengalaman pertamaku naik pesawat perintis yang hanya membawa 9 penumpang berserta pilot. Itu benar – benar pengalaman paling berkesan dalam hidupku. Di pewasat aku sangat riang gembira, melihat luasnya hutan dibawah dan indahnya pemandangan dari atas. Selama satu jam perjalanan, tak satupun aku liat tanda – tanda ada kehidupan dibawah sana sampa akhirnya mulai terlihat rumah. “Mungkin sudah dekat,” pikirku. Jantungku berdebar kencang ketika pesawat mungil itu akan mendarat. Tak terpikirkan olehku landasan pesawatnya hanyalah bandara kecil tak beraspal dilereng gunung. Sungguh pendaratan yang sangat menegangkan, menddemarkan dan menguji adrenalin. Meskipun pada akhirnya, pesawat mendarat dengan mulus. Dan di desa kecil nan asri itu sudah menanti calon murid – murid kami yang siap menjemput sekaligus mengantarkan kami kerumah. Seluruh warga sangat antusias menyambut kedatangan kami. Karena kami tidak ada pendamping yang mengantar, kami tampak sangat bingung. Kami disambut dengan celotehan Pak Daud dengan bahasa yang masih belum kami pahami kala itu. Lama- lama kami tau, Pak Daud hanyalah orang gila yang juga ikut menjemput kami dibandara. Pantas, banyak warga yang hanya tersenyum geli waktu kami datang.
Pertama kali menginjakakan kami di Abmisibil, aku dan teman – teman sangat kagum, terpesona dengan keindahan yang ada disana. Sungguh diluar dugaan, ada sebuah kehidupan di tengah hutan papua itu. Murid – murid sangat bersemangat mengantar kami ke rumah, membawakan semua barang – barang kami, guru SM3T. Rumah kami berada di kompleks perumahan guru SMP. Karena tidak ada transportasi darat, semua perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki. Rumah kami berada di paling bawah sehingga jika ingin kemana mana, kami harus mendaki. Okbibab merupakan distrik tertinggi dengan cuaca yang sangat dingin. Cuaca tak menentu dan bisa berubah – ubah kapan saja. Dilihat dari nama, Pegunungan Bintang, sudah pasti tempat kami bertugas tidak lepas dari kondisi pegunugan yang berbukit – bukit sehingga kaki kami harus bekerja lebih ekstra untuk beraktivitas.
            Hari pertama di Abmisbil, dingin sekali. Aku harus cepat beradaptasi dengan cuaca. Sebagian warga mengatakan kami harus mandi agar bisa langsung menyesuaikan diri dengan cuacanya. Dan airnya, dingin sekali, sangat dingin. Seluruh tubuhku rasanya hampir mati rasa karena beku. Siang hari kami diundang oleh guru SMP untuk melaksanakan pesta penyambutan. Seluruh instansi penting di Abmisibil, diundang kala itu. Kami berkenalan dan bercengrama satu sama lain. Hingga akhirnya acara ramah tamah, mengisi perut kami yang belum terisi dari pagi kerena kami belum bisa menghidupkan api menggunakan kayu bakar sehingga kami belum bisa memasak. Masakannya, diluar dugaanku. Aku pikir karena kita berada di pulau yang berbeda, akan sulit bagiku menyesuaikan selera lidah. Aku salah, masakannya luar biasa enak dan lidahku bisa menerimanya dengan baik. Ibu Meri, salah satu guru SMP yang berasal dari Toraja sungguh pandai memasak.
            Proses perkenalan berjalan dengan baik. Kami melanjutkan aktifitas dengan membersihkan rumah. Rumah kami kecil, terbuat dari balok kayu, terlihat sangat tradisyonal, tapi masih nyaman untuk dihuni. Listrik sudah ada 24 jam, air bersih tersedia dan tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan selain itu. Dari pertama kali datang aku sudah berpikir semuanya akan menyenangkan dan aku akan sangat betah tinggal disana. Aku bersemangat....
            Tugasku mengajar Bahasa Inggris di SMP, dibandingkan teman – teman yang lain yang harus mendaki untuk kesekolah, aku masih lebih mudah karena SMP ada didepan rumah. SMPN Okbibab sudah memiliki admisnistrasi sekolah yang cukup baik karena masih ada guru yang berada di tempat tugas. Jadi aku hanya perlu mengikuti saran dari guru yang ada untuk bisa cepat beradaptasi dengan murid – murid. Kulihat satu persatu wajah murid – muridku. Disana tampak bahwa mereka memiliki banyak harapan padaku. Tampak jelas bahwa mereka sangat membutuhkanku. Mereka memang tidak seperti murid pada umumnya di pulau jawa. Muka lusuh, baju kotor, tidak bersepatu bahkan memiliki bau yang sedikit mengganggu, tapi mereka terlihat tulus. Mereka mencintaiku, itu yang juga aku rasakan dari pandangan mereka. Mereka memiliki semangat belajar yang tinggi. Berjalan kaki jauh kesekolah, berangkat pagi bahkan ketika guru belum bangun. Karena ada yang membutuhkan waktu 3 jam lebih untuk berjalan kaki kesekolah. Tapi mereka tetap mau, mereka tetap ingin ke sekolah. Itu yang menggerakkan hatiku untuk mengajar sepenuh hati agar setidaknya aku bisa membawa sedikit perubahan disini.
            Siswa SMP umumnya sudah bisa baca tulis dan berhitung, namun juga masih ada saja siswa yang belum lancar ketiganya. Proses penerimaan siswa baru hanya ada 1 syarat, yakni mau bersekolah. Tidak ada ketentuan bisa baca / tulis karena memang untuk menumbuhkan kesadaran kepada anak tentang pentingnya pendidikan masih sangat sulit. Jadi kami masih harus kerja ekstra untuk mengejar ketertinggalan. Kami masih mengadakan les tambahan untuk mengajar baca, tulis dan berhitung karena ketiganya merupakan dasar yang harus dimiliki oleh siswa agar bisa menerima dan mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Siswa SMP lah yang paling membantu kami selama kami disana. Membuat kebun bersama, memberi kayu bakar, sayur dan semua hal yang kami butuhkan. Kalau aku ingin kacang, pisang, nanas, tingggal minta. Akan tetapi, siswa memberi bukan berarti mereka memiliki lebih.  Mereka memberinya justru dari sisi kekurangan mereka. Itu karena mereka sangat mencintai kami, mereka senang kami datang dan mau mengajar disana. Mereka, setidaknya membuatku merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.
            Abmisibil, membuatku memiliki keluarga baru. Papa Seran (guru SMP) dan istrinya mama Eva sudah seperti ayah dan ibuku sendiri. Mereka melindungiku dan mendengarkan semua keluh kesahku setiap hari. Mereka memperlakukanku seperti anak mereka sendiri. Dengan segala kemanjaan dan kecereweetanku, beliau masih peduli dan menyayangiku sepenuh hati. Ibu Meri, sudah seperti kakakku sendiri. Mengajariku membuat kue, cerita bersama, main kartu sampai malam, nonton tv dan karaokean. Kalau tidak ada Ibu Meri, mungkin aku sudah bosan disana. Guru – guru SMP sudah seperti keluarga besarku sendiri. “Ayo bakar ayam, kita makan bersama” ujar Pak Mofu, kepala sekolah SMP. Begitulah kebiasaan kita disana kala sudah merasa ada dititik jenuh. Kami berusaha mencari kesenangan bersama agar tidak pernah merasa kesepian disana. Setelah makan – makan biasanya dilanjutkan MOP, karaoke bahkan bergoyang bersama. Sungguh kebersamaan yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Dinginnya Abmisibil masih membuatku merasakan kehangatan keluarga, yaa keluarga baruku disana. Aku mencintai mereka semua, mereka membuatku betah berada di distrik (sebutan untuk kecamatan) yang sunyi itu.
            Mengenai mengajar, SMPN Okbibab masuk jam 07. 30 WIT. 15 menit sebelum masuk, biasanya ada apel pagi. Pulang sekolah jam 12. 40 dan dilanjutkan dengan apel siang. Sudah diatur jadwal piket setiap harinya. Ketika apel, guru piket biasanya memberikan nasihat – nasihat kepada siswa, kadang menggungting rambut siswa yang sudah panjang dan menghukum siswa yang tidak mandi kesekolah. Kami, para guru di SMP menerapkan pola hidup bersih disekolah. Aku senang mengajar di SMP. Selain karena guru – gurunya yang sangat ramah dan sangat peduli kepada kami, murid – muridnya pun juga menyenangkan. Aku sangat bersemangat mengajar, apalagi ketika aku masuk kelas dan anak-anak tiba-tiba bertepuk tangan riang gembira karena aku yang mengajar. Seolah, kehadiranku selalu dinantikan oleh anak-anak. Mereka senang dengan materi yang aku berikan. Mungkin karena di SMP sudah 30 tahun tidak pernah ada guru yang mengajar bahasa inggirs, jadi anak-anak sangat antusias untuk belajar. Terlebih, aku biasanya hanya mengajarkan bahasa inggris dasar dengan sistem pembelajaran yang menyenangkan. Jadi, sambil bermain anak-anak bisa belajar. Senang sekali rasanya bisa melihat kegembiraan murid-muridku saat mereka belajar. Seperti mendapat energi lebih banyak untuk selalu bersemangat berangkat kesekolah setiap harinya.
            Dirumah, aku tinggal dengan 7 orang temanku. Karena tidak ada jaringan seluler, kebersamaan kita kian terasa. Tidak ada diantara kita yang sibuk sendiri dengan hp ketika kita sedang berkumpul. Kita menghabiskan seluruh waktu bersama-sama. Mengusir jenuh dan mengisinya dengan segala hal yang menyenangkan. Bernyanyi, tertawa, membuat gaduh sampai mengganggu tetangga. Kita sudah seperti keluarga sendiri. Berkat mereka, aku tidak pernah merasa kesepian. Kita seakan selalu memiliki ide gila untuk dilakuan bersama sehingga waktu lebih cepat berlalu ketika aku disana. Mereka menngajariku banyak hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Tanpa mereka, aku bukan apa – apa di Abmibil. Aku sangat menyayangi mereka semua, keluarga baruku itu. Kadangkala, tidak adanya jaringan seluler juga baik. Itu membuat kami semakin dekat dan semkin membutuhkan satu sama lain.
            Kegiatanku setelah mengajar biasanya memasak dirumah, belajar membuat kue, membuat noken (tas), jalan-jalan ke kampung-kampung atau mengisi les di sore hari jika ada murid yang datang. Kadang juga aku melihat voli, basket dan sepak bola didepan rumah. Kompleks SMP selalu ramai disore hari karena semua warga akan berkumpul disana untuk memanfaatkan fasilitas olahraga milik SMPN Okbibab.  Kita seakan tidak pernah haus akan hiburan karena kita memanfaatkan apa yang ada semaksimal mungkin.
            Semua warga di Okbibab sangat ramah. Selama satu tahun aku mengajar disana, tak sekalipun aku melihat orang bertengkar atau saling pukul. Mereka semua akan menyapa setiap kali bertemu dengan kita. “Selamat pagi Ibu, yepmum” begitu yang sering aku dengar setiap kali bertemu dengan mereka. Mereka juga tidak sungkan untuk tersenyum sambil berjabat tangan. Yepmum adalah sapaan warga Okbibab, dalam agama islam, mugkin artinya sama dengan assalamualaikum. Warga di Okbibab juga sangat menghargai kami, kaum muslim. Jika ada acara adat (misalkan bakar batu) biasanya mereka akan membedakan kolam pembakaran / tempat untuk babi dan ayam. Mereka memiliki torelansi antar agama yang sangat besar. Aku benar – benar sangat bangga dengan warga di Abmi. Tak banyak yang bisa aku ceritakan tentang Abmi, semua kenangan di otakku adalah segala hal yang membahagiakan. Abmi membuatku belajar banyak hal, tentang bagaimana cara bersosialisasi dan menghargai satu sama lain.
            Aku dekat dengan warga disana, aku selalu pergi berkunjung diwaktu luangku. Berbagi cerita satu sama lain. Warga Abmi menepis pemikiranku tentang orang Papua yang aku pikirkan ketika aku pertama kali datang. Hangat, ramah, penuh cinta kasih, itulah penduduk Papuaku, di tanah Abmisibil. Salah satu warga yang paling dekat denganku adalah mama Dolpi dan mama Yubel. Mama Dolpi, aku tidak tau bagaimana awal aku mengenalnya. Hanya saja ada salah satu muridku, Lina namanya. Dia bercerita kalau dia memiliki guru yang sangat baik padanya, itu aku. Dan mama Dolpi mulai datang ke rumah dan memberikan banyak buah, sayur dan segala hal yang dia miliki dirumahnya, untukku. Setiap aku membutuhkan sesuatu, dia selau datang membantu. Membersihkan kebunku, bahkan ketika libur sekolah dia berencana membawakan kami kayu bakar kalau kayu bakar kami sudah habis. Dia memang sangat baik sekali. Awalnya aku jengkel karena dia selalu datang, aku mengeluh karena aku lelah untuk menemani. Tapi akhirnya aku sadar, dia sangat menyayangiku. Dia bahkan menagis ketika mendengar aku sakit. Dia menyayangiku lebih dari dirinya sendiri. Bagiku, dia sudah seperti ibuku sendiri. Dia melindungiku, selalu. Biasanya, setiap pagi dia membwakanku keladi (sejenis talas. Dia akan menitipkannya pada muridku. Dia tau itu adalah makanan favoridku. Dia benar-benar tulus. Akhirnya, aku menyayanginya. Jika dia lama tidak datang kerumah, aku pasti kangen. Dia mengajariku membuat noken, meskipun aku sulit untuk menjaitnya, tapi dia tetap sabar mengajariku. Pernah suatu ketika dia bekerja menjadi kuli membangun jalan. Gajinya tak seberapa lalu dia berniat membaginya denganku. Hatiku sakit kala itu, bukan karena jumlah uang yang akan dia berikan. Tapi justru karena selama aku bersamanya, tidak hal yang bisa aku lakukan untuk membalas semua pengorbanannya selama ini untukku. Berat rasanya meninggalnya pergi. Terlebih setelah pergi, kita tidak bisa berkomunikasi satu sama lain. Saat kepulanganku, dia memegang erat tanganku. Dia memeluk dan menciumku. “mama akan sakit satu bulan dan menangis sampai mati kalau kawan pergi, ujarnya”. ‘kawan”, ya dia memang memanggilku dengan sebutan itu. Mungkin baginya aku sudah seperti kawan yang selalu menemaninya. Dia selalu tidak ingin aku pergi dan susah bagiku untuk memberinya pengertian karena akupun juga tidak ingin pergi. Pengalaman seperti ini adalah hal yang paling aku benci dari adanya program SM3T. Perpisahan, aku sangat membencinya. Setelah aku mendapatkan keluarga baru, aku harus pergi karena masa kontrakku sudah berakhir.
            Selain mama Dolpi, aku juga dekat dengan mama Yubel. Beliau adalah suster di puskesmas Abmi dan wali dari almarhumah muridku Yokbeta. Yokbeta adalah salah satu murid terbaik kami, SMPN Okbibab yang meninggal karena sakit. Kedekkatanku dengan mama Yubel karena beliau juga dekat dengan papa Seran dan mama Eva. Selain itu, ketika Yokbeta sakit aku selalu datang kesana untuk menjenguk dan memberi motivasi untuk sembuh. Mama Yubel dan keluarganya sangat menyayangiku. Mereka selalu memberiku sayur kerumah. Ketika aku berpamitan untuk pulang, mama menangis dan memelukku dengan erat. Mengatakan semoga suatu saat aku bisa kembali lagi berkumpul dengan keluarga disana.  Aku bersyukur banyak hal yang aku dapatkan selama aku bertugas di Abmi. Paling tidak, aku pulang dengan memberikan kenangan yang baik untuk warga disana.
            Di kepulangan kami, semua warga menagis haru. Mereka berharap kami bisa sedikit lebih lama lagi disana. Mereka mengantar kami ke bandara dengan berat hati. Tak terasa satu tahun kebersamaan kami, waktu memamng berjalan lebih cepat dari biasanya.Murid- muridku yang dulunya aku bilang lusuh, kotor dan bau, sekarang tampak sedikit bersih. Tapi diluar dari itu semua, aku benar – benar sudah sangat menyayangi mereka. Mereka adalah bagian dari diriku, memiliki tempat dihatiku dan memberi begitu banyak pelajaran yang tidak bisa aku beli dengan apapun.

Bagiku, Abmisibil bukan daerah 3T yang sering aku dengar. Abmisibil adalah surga kecil ditengah hutan belantara Papua. Yaaa...kutemukan surgaku disini, kutemukan banyak cinta, dan kutemukan segala hal yang belum pernah aku temukan sebelumnya, dipedalaman Papua tercinta ini. Papua, akhirnya tak ada lagi rasa takut. Yang ada hanyalah rasa cinta yang mendalam. Hanya ada 1 kalimat terakhir yang bisa aku ucapkan tentang Okbibab,”Aku ingin kembali”. Tunggu aku murid-muridku, mama, bapak dan semuanya. Semoga kita, bisa berjumpa dan bersama-sama kembali, nanti......